Renungan me”Nyepi” di Bali

Di mata orang awam, perjalanan wisata ke Bali yang dilakukan banyak wisatawan mungkin hanya sebuah penyegaran fisik. Tapi dalam kacamata spritual perjalanan ke Bali bisa merupakan sebuah perjalanan untuk yang tidak hanya mencari kesegaran fisik ,namun juga batin. Mengolah carbon dioxide (kekacauan kosmik) menjadi oksigen (vibrasi positive) yang amat dibutuhkan semua orang .

Saat ini di berbagai belahan dunia mungkin terus berputar dengan kekacauan kosmiknya, maka dari itu baiklah kita sempatkan diri “berlibur” untuk dapat menyepi dan menggapai matahari keheningan. Dalam bahasa Arab berlibur atau cari udara segar disebut “Rihlah” dimana kata “Rihlah” berasal dari kata “Al rih” yang seakar dengan kata “al Ruh”,  jadi kalau mau segar lahir bathin sering seringlah berlibur dan melebur dengan sang Maha Ruh. Melepaskan kepenatan hati pikiran dan jiwa.

Mari perhatikan bentuk pulau Bali secara seksama. Di “kepala” (bagian utara Bali) di mana bisa terlihat matahari terbit sekaligus tenggelam, nama desa bagian utara disebut dengan Kubutambahan. “Kubu” artinya rumah, “tambah” artinya positif (rumah orang-orang yang berpikir positive). Di kaki pulau Bali (Bali bagian selatan), nama desanya disebut Sanur, dimana matahari terbit sering kali bercumbu mesra dengan puncak gunung Agung. “Sa” dalam bahasa Bali artinya satu, “Nur” itu cahaya (Cahaya yang satu, nur ala nurin, cahaya di atas cahaya). Dan tempat dimana jutaan manusia dari seluruh dunia mengalami penyembuhan bernama Ubud (ubud = ubad = obat) berlokasi di Bali Tengah.

Matahari keheningan di dalam diri mungkin terbit bila manusia mengisi kepalanya dengan pikiran positif, melangkahkan kaki diterangi cahaya yang Maha Satu, sebagai hadiahnya, ia tersembuhkan (tercerahkan). Ciri manusia tercerahkan, selalu berjalan di jalan tengah (khairul umuri awsatuha).

Puncak pencarian di jalan tengah bernama keheningan. Dimana seluruh dualitas (benar salah, baik buruk) lebur di telan keheningan samudera lautan Nusa Dua Bali menjadi keindahan menawan. Itu sebabnya tersisa teramat banyak keindahan di pulau Dewata.

Dan janganlah melewatkan kunjungan ke Pura Besakih. Di titik pusat Pura Besakih diantara Kiwa-Tengen, leluhur umat Hindu memberikan tanda Parama Shunya (keheningan yang maha utama). Di tempat itu, leluhur umat Hindu tidak meletakkan apa apa. Karena memang tidak Ada lagi yang perlu di jelaskan. Pantas Raja Salman senyum-senyum saja. Dan tidak heran Elizabeth Gilbert dalam novel Eat Pray and Love jatuh Cinta dengan pulau Dewata (Jatuh Cinta dengan Tuhan ).

 

Shanti..Shanti…Shanti (peace, peace, peace)

 

(Yusuf Daud)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s